31 Desember 2006
23.34
Kembali Bayu menghisap rokok Sampurnanya yang tinggal sebatang. Setiap gepulan asap yang ia hembuskan seperti menggambarkan gepulan ide-ide yang memenuhi setiap sendi otaknya. Ketika semua orang di rumahnya menghabiskan akhir tahun dengan berlibur bersama, ia malah memilih mengurung diri, berceracau dengan novel yang ia tulis 2 bulan yang lalu. Memang Bayu sangat memusatkan perhatiannya pada dunia sastra yang baru diliriknya 3 tahun yang lalu.
Berawal dari cerpen yang berjudul “Hanum” di salah satu Koran nasional, Bayu langsung menyedot perhatian para sastrawan ternama. Betapa tidak, setiap kata yang tulis mengalir begitu indah, ketepatan kata itu membuat orang akan beranggapan ia sudah lama berada di bidang ini.
1 januari 2007
02.28
Di penyambutan tahun baru yang penuh kembang api dan sorak sorai, sebuah rumah hanya senyap, seperti tak ada kehidupan. Diruang 4x4 itu, kertas berceceran dimana mana. Begitu amburadul. Tak jauh dari gelas kopi yang hanya tinggal ampas, Bayu terlelap tidur tepat diatas keyboard komputernya. Ia terlihat sangat lelah setelah seharian berhadapan dengan layar monitor buntut itu.
“jangan berharap terlalu jauh Hanum, kau takkan menjadi bagian dari hidupnya” Zahra meyakinkan temannya yang sedang dimabuk cinta.
Hanum hanya diam, lalu melihat wajah orang yang ia cintai sedang tertidur pulas, ia mengambil sebuah selimut yang ada di atas ranjang kecil berwarna hitam milik Bayu. “ia yang telah memberi aku kehidupan, bahkan hidupmu dan yang lain. Sejak pertama kali ia menghadirkanku, aku telah jatuh cinta padanya” ia berkata lirih sambil menyelimuti Bayu.
“ingat Hanum dunia yang ia ciptakan untuk kita tak kan pernah sama dengan dunianya. Kau hanya diciptakan untuk membuatnya terkenal, bukan untuk mencintainya”
“tapi, aku..”
“sebaiknya kau tidur Hanum, beristirahat lah. Kita tak tahu apa yang akan ditulisnya untuk hidup kita. Entah akan membuat kita lelah, seperti kelelahannya atau sedikit lebih santai untuk awal tahun baru ini” Hanum mengangguk pasrah. Sebelum pergi, kembali ditatapnya wajah beralis tebal diatas mata indah itu, dan bibir hitam akibat rokok yang setiap hari ia hirup, menjadikan Bayu lebih seksi dimata Hanum.
“hadiahi aku kehidupan yang nyata untuk memilikimu Bayu!” Hanum berbisik ditelinga Bayu.
***
1 januari 2007
07.30
Setelah puluhan kali bel rumah asri berwarna abu-abu berbunyi barulah Bayu terbangun. Dengan langkah terhuyung ia menuruni tangga dan membukakan pintu.
“kemana saja kau, sudah hampir rusak bel ini kutekan”
“maaf aku masih tidur tadi” dengan langkah cepat Bayu kembali kekamar sebelum mendengar omelan ayahnya.
Melihat kamar yang meja kerjanya yang berantakan itu, ia berusaha teringat mimpinya semalam. Ia berasa memimpikan seorang gadis berhidung bangir dengan tubuh ramping namun tidak terlalu tinggi. Gadis itu dihadiahi dengan bola mata coklat yang sangat indah dan Ramput sebahu tergantung menyempurnakan kecantikannya. Gadis itu persis seperti Hanum yang ia ciptakan. “Mungkinkah itu memang jelmaan Hanum? Ah, mungkin karena aku terlalu banyak menulis namanya disetiap tulisan ku.’
Ia kembali menyapukan pandangannya pada seluruh ruangan kamar, seingatnya semenjak bunda membersihkan kamarnya sebelum pergi bertahun baru dengan ayah dan kedua adiknya, tak sedikit pun ia menyentuh ranjang yang sudah rapi. Tetapi selimut itu telah tergeletak dibelakang kursi meja kerjanya.
“aneh, tak mungkin diterbangkan angin. Lalu kenapa selimut ini sampai kesini” beberapa menit ia memikirkan kenapa selimut itu, dan akhirnya ia menyerah dan tak terlalu ambil pusing. Ia menyambar handuk untuk mandi.
27 Maret 2007
11.10
Bayu melirik jam tangannya, lewat sepuluh menit. Kebiasaan ngaret seperti telah melekat pada rekan kerjanya. Ia kembali menyerut jus mangga yang hanya tinggal setengah itu. Ia sengaja menyerut lebih lambat karena tak mau jus itu habis sebelum orang dari penerbitan itu datang.
“Hai yu”. Tanpa minta maaf ia duduk dan memanggil pelayan
“Kopi, gulanya sedikit saja”.
“Begini yu, setelah kubaca novelmu, aku kurang pas dengan endingnya. Tak bisakah kau ubah? Karena kulihat endingnya sama saja dengan novel yang kemaren. Hanum selalu saja pada akhirnya bahagia”.
“karena begitulah Hanum pak. Ia ditakdirkan bahagia”
“hahahah! Takdir! Kaulah yang membuat takdirnya. Berilah hal baru. Ia tak bisa selalu bahagia. Kau mengerti yang ku mau. Lakukanlah”.
Bayu hanya diam, tak tau harus berkata apa. Haruskah ia membuat perubahan pada kehidupan Hanum yang telah membesarkan namanya. Atau ia harus mencari penerbit lain?. Lelaki paruh baya yang di panggil Harun itu menyerut kopi yang baru diantar oleh pelayan.
“aku yakin, bila kau lakukan, novel mu akan lebih membludak dipasar. Keputusan ditanganmu.”.
Beberapa menit berlalu tanpa kata. Sepi. Bayu hening dengan kecamuk nasib Hanum. Dan Harun sedang asyik menikmati kopi pahit itu, sambil sesekali memerhatikan wajah Bayu.
“satu hal lagi, cobalah nama lain untuk novel atau tulisanmu yang lain”.
‘kutunggu 2 bulan lagi. Aku tahu kau bisa merampungkannya sebelum bulan mai, aku pergi dulu”.
Lalu harun meninggalkan Bayu dan kekasir membayar pesanannya dan Bayu. Selang beberapa waktu Bayu bangkit, dan meniggalkan restoran itu. Ia berfikir akan pergi kerumah kekasihnya, via. Akan lebih baik mencurahkan kekesalannya dan kegalauannya pada orang lain.
“aku tak mengerti dengan jalan fikirannya, seenaknya saja ingin membuat Hanum berakhir tragis. Dan dia tahu aku tak menginginkannya. Kau juga tahu itukan?”.
“Bayu, kurasa yang ia katakana ada benarnya. Tak ada salahnya kau mencobanya”.
“kau tak mengerti, sama seperti laki-laki itu, tak memahami perasaanku”.
“apa yang mesti dimengerti. Hanum itu hanya sebuah nama yang kau lahirkan. Kau bisa saja membunuhnya saat ini juga. Apa yang kau pertimbangkan”.
“tapi, lewat Hanum aku bisa seperti ini.”
“bukankah kau yang membuat dia ada? Berarti kaulah yang membuat dirimu seperti sekarang. Bukan karena dia”.
“Dia memang tak hidup, tetapi aku juga takkan mematikannya”.
***
28 mai 2007
“Hanum apa lagi yang kau tangisi?”.
“kenapa ia begitu merubah hidupku menjadi sengsara seperti ini. Apa salahku padanya Zahra. Tak cukup dengan itu, dia juga ingin mematikanku peranku. Lihat cerpen yang ia tulis kemarin lusa, ia sama sekali tak memasukkanku.”.
“lalu kau ingin berbuat apa? Kau pernah berucap Bayu lah yang memegang hidupmu bahkan hidupku dan mereka. Kini ia ingin mematikanmu, itu hal yang mudah baginya”.
“kukira selama ini ia mencintaiku” isak tangis Hanum semakin menjadi.
“hey Hanum, mana mungkin ia mencintaimu. Kau hanya tokoh fiktif. Ingat hanya sebuah tokoh. Dia takkan segila kau. Pungguk merindukan bulan.”. Zahra menggeleng putus asa melihat temannya yang dianggapnya sudah gila itu.
“ini tak adil bagiku. sebelum ia ingin mematikanku aku yang akan menghilang dari semua tulisannya”.
“kau memang gila”.
***
29 mai 2007
Pagi suram itu membuat segala sesuatu berubah. Bayu kembali dari bar setelah semalaman suntuk merayakan keterbitan novel barunya. Baru saja Bayu hendak menggolekkan tubuhnya yang penuh bau asap rokok dan bir, handphone nya berdering. Dengan mata yang setengah tertutup itu ia merogoh sakunya.
“hallo, kenapa pak?”
“entah apa yang terjadi, semua kata yang bertuliskan nama atas tokoh utama “Hanum” hilang. Tak ada namanya satu pun dinovelmu”
“bagaimana bisa, terkena virus kah?
“entahlah, ini janggal kenapa hanya dinama Hanum saja yang hilang”
***
Labels : wallpapers Mobile Games car body design Hot Deal


0 komentar:
Posting Komentar